Jumat, 13 Juni 2008
DEMI MASA
Pagi, bangun, mandi, kemas, kuliah
Itu semua demi emakku di Kampong
Hari ini, aku lelah, terkulai
Ujian setiap hari, tanpa kecuali hari Ahad
Oooohhhh, melelahkan
Demi masa
Esok aku harus menjadi doktor kimia
Yang ternama di jagat Bengkalis
Yaaa, jadi Habiebienya Bengkalis
Tapi, mampukah aku....
Aku yakin, dengan bismillah, langkahku ke sana
Demi masa
Masa depan ada di mana?
Di tangaku atas petunjukkanmu Ya Allah
Bukan di tangan siapa pun
Tanganmu, tangan dia dan tangan-tangan lainnya
Yaaaaaa. Masa depan itu pasti kuraih....
Pekanbaru
Mak Ucu, 9 Mei, 2008
Sibuk
Besok sibuk
besok besok lagi sibuk lagi
Pokoknya sibuk teroooss
Sibuk
Aktivis?
Tapi apa karyamu?
Demo, paling-paling sekadar ikut-ikutan?
Demonya, seperti cuma seremonial?
Yaaaa
Aktivis, itu apa?
Pengurus senat, penulis artikel, tukang demo
atau, apa ya?
Aktivis itu adalah menjadikan diri sendiri
bermanfaat
berguna
tak menyusahkan orang lain
Ya itulah aktivis
Mana mungkin, dalam waktu bersamaan manusia ingin menjadi penulis, tukang demo, pengurus senat, IP4 dll
Pilihlah satunya,
belajar di kampus
belajar di rumah
belajar di lingkung luar kampus
Tarai,
13 Juni 2008
Makusu bayi
Membuka Pintu Surga
Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?"
Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''
Pahlawan ke Neraka?
Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."
Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.
Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."
Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."
Cinta Sejati
Kebanggan pada Kebaikan
Masjid Kota Bengkalis
Dosa Ibarat Lalat dan Gunung
Kepekaan terhadap sesuatu menjadi ukuran terhadap nilai sebuah masyarakat mayarakat yang dibentuk oleh nabi sangat sesintif terhadap islam seruan untuk jihad disambut dengan rela hati mereka sanggup mengorbankan harta dan diri mereka karean menegakkan agama dan tauhid dijalan Allah mereka berlomba-lomba mengerjakan kebajikan dan ketaaatan walau sekecil apapun kepada merekalah kebajiakan diberikan kepada Allah pada masa yang sama mereka menjauhi semua larangan Allah bagi mereka besar atau kecilnya larangan adalah sama saja karena semua itu larangan dari Allah lantaran kepekaan terhadap suruhan dan larangan Allah itulah mereka sangat takut mengerjakan maksiat walau kesalahan sekecil apapun jika mereka berbuat kesalahan dosa kecil saja meraka akan merasakan perasaan tertekan seolah-olah gunung uhut akan menimpa dirinya mayarakat sekarang barangkali kita perlu bertanya apakah kita dizaman maju masih unya ketakutan seperti mereka kebanyakan kita sekarang ini tidak lagi peka terhadap ajaran islam walaupun telah melakukun dosa besar yang sangat banyak namun dirasakan seperti seekor lalat yang hinggap dihidung saja seolah-olah tidak ada apa-apa ini tentu saja berbeda dengan generasi awal yang merasakan himpitan gunung hanya karena melakukan dosa yang kecil betapanabi adam menangis beratus-ratus tahun yang lalu hanya melakukan satu dosa saja yaitu memakan buah quldi yang dilarang oleh Allah sehingga air mata tangisan mengalir menjadi sungai dan laut yang dapat kita manfaatkan hingga dewasa ini bagaimanakah keadaan kita saat ini adakah kita menangis setelah melakukan dosa dan adakah kita takut untuk berbuat dosa.

1 komentar:
Mantap puisinya, yeeee
Posting Komentar